Info Corona Update

COVID-19 ID

TOTAL POSITIF
ORANG
Positif
TOTAL SEMBUH
ORANG
Sembuh
TOTAL WAFAT
ORANG
Meninggal

Meraih Sukses Dengan Metode Kuno



Pada tahun 2001an terkenalnya konsep Robert Kyosaki tentang menuju kebebasan financial. Sebagian besar dari ajaran-ajaran Kiyosaki fokus pada menghasilkan pendapatan pasif dengan cara investasi peluang, seperti real estate dan bisnis, dengan tujuan untuk bisa mendukung diri sendiri hanya dari investasi semacam itu. Sejalan dengan hal ini,

Kiyosaki mendefinisikan "aset" sebagai hal-hal yang menghasilkan cash inflow, seperti sewa properti atau bisnis-dan "kewajiban" sebagai hal-hal yang menggunakan uang tunai, seperti rumah, mobil, dan begitu di. Kiyosaki juga berpendapat bahwa keuangan leverage (keuangan) sangat penting untuk menjadi kaya.

Banyak buku bukunya saya baca, dalam benak pikiran saya kalau kita terlanjur kaya bagaimana dengan harta harta kita yang telah kita peroleh? Ketika kita meninggal? Oke lah, kita wariskan ke anak cucu kita , terus apa dengan warisan akan mendatangkan perdamaian dan keyamanan untuk anak cucu kita? Coba anda sekali kali berjalan2nya tidak di MAL dan tempat2 pembelanjan saja coba sekali kali jalan jalan ke pengadilan.

Ketika saya coba berjalan jalan ke pengadilan mata dan fikiran saya tertuju pada sebuah kasus yang menarik untuk saya pribadi, ya sebuah kasus yang membuat saya berfikir ke masa lalu. Kasus saling Menuntut warisan yang di lakukan sebuah keluarga dalam satu keturunan. Mereka saling menuntut pembagian waris, ok lupakan kosep kaya raya itu, dan lupakan konsep menuntut pembagian warisan.
Dari uraian di atas saya teringat nasehat Kakek ketika dulu masih kecil. Nasehat itu masih kuat di dalam pikiran saya, inilah nasehatnya



Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih

Preisiden JANCOK Sujiwo Tejo kalau menyanyikan "Sugih Tanpo Bondo" dan mengingatkan saya pada Kakek saya Yang memberikan nasehat ini Tiga Puluh Tahun Silam yang di pituturkan oleh Kakek dalam sebuah nasehat yang berharga

Sugih Tanpo Bondo Yang di terjemahkan Dalam Bahasa indonesia adalah Kaya Tanpa Harta, arti sebenarna bukan kaya tanpa harta yang sesungguhnya tetapi kaya itu bukan hanya harta tetapi kaya ilmu kaya hati itu lebih penting dari kaya harta : kaya yang dimaksud sebenarnya adalah tidak berkekurangan, artinya bukan semata-mata harta yang menjadikan tolak ukur. Kaya yang dituju dalam hidup bukanlah pengumpulan harta benda dan uang selama hidup.
Dengan kita kaya ilmu kita juga bisa beramal dan sebelum kita kaya harta lebih baik kaya ilmu karena ilmulah yang dapat kekal abadi di bandingkan harta, dengan ilmulah kita bisa bahagia. Apakah hidup tidak perlu kaya harta? Hidup harus kaya harta untuk menunjang ibadah kita tapi jangan terpedaya dengan harta duniawi saja.

Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,

لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ

“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”

Digdoyo tanpo Aji adalah Bekuasa Tanpa Kesaktian yang mempunyai makna yang dalam yaitu Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, berarti suatu kekuasaan tercipta karena citra dan wibawa seseorang, perkataannya, membuat orang lain sangat menghargainya. Sehingga apa yang diucapkannya, orang lain senantiasa mau mengikutinya
bahwa dengan hati dan pikiran baik, secara tidak langsung membentuk perilaku yang baik pula terhadap jiwa manusia. Atau kita berkuasa jangan menggunakan Sikap seenak kita sendiri tanpa mendengarkan jeritan rakyat atau bawahan kita. Atau bisa dimaknai Kuat Tanpa Kekuatan, nah ini penting sekali, walau kita mampu kita tidak boleh menyombongkan diri, tidak ada mànusia kuat di dunia ini karena yang paling kuat adalah ALLAH.

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ قَالَ أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ مِمَّنْ أَنْتَ فَقُلْتُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ مِصْرَ فَقَالَتْ كَيْفَ كَانَ صَاحِبُكُمْ لَكُمْ فِي غَزَاتِكُمْ هَذِهِ فَقَالَ مَا نَقَمْنَا مِنْهُ شَيْئًا إِنْ كَانَ لَيَمُوتُ لِلرَّجُلِ مِنَّا الْبَعِيرُ فَيُعْطِيهِ الْبَعِيرَ وَالْعَبْدُ فَيُعْطِيهِ الْعَبْدَ وَيَحْتَاجُ إِلَى النَّفَقَةِ فَيُعْطِيهِ النَّفَقَةَ فَقَالَتْ أَمَا إِنَّهُ لَا يَمْنَعُنِي الَّذِي فَعَلَ فِي مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ أَخِي أَنْ أُخْبِرَكَ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ حَرْمَلَةَ الْمِصْرِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ شِمَاسَةَ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

‘Aisjah r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda di rumahku ini : ya allah siapa yang menguasai sesuatu dari urusan umatku, lalu mempersukar pada mereka, maka persukarlah baginya. Dan siapa yang mengurusi umatku lalu berlemah lembut pada mereka, maka permudahlah baginya. (hr. Muslim)

Penjelasan:

Hadis ini menerangkan tentang larangan seorang pemimpin untuk bersikap arogan, elitis, represif dan birokratis atau mempersulit urusan-urusan rakyatnya. Karena sebagaimana kita ketahui, tidak sedikit pemimpin yang bersikap arogan dan mempersulit urusan-urusan rakyatnya. Untuk mengurusi dokumen-dokumen kewarganegaraan saja misalkan, seperti ktp, akta kelahiran, perijinan usaha, dsb, seorang rakyat harus melalui tahapan-tahapan yang cukup rumit dan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Padahal, seorang pemimpin, menurut hadis ini, harus memberikan pelayanan yang maksimal serta tidak menyulitkan warga atau rakyat. Bila semua urusan itu bisa dipermudah kenapa harus dipersulit. Akibatnya, birokrasi yang sejatinya bertujuan untuk mempermudah, berbalik menjadi mempersulit segala urusan rakyat. Oleh sebab itu, bila sorang pemimpin suka mempersulit urusan rakyatnya, maka niscaya allah akan mempersulit segala urusan dia baik di dunia lebih-lebih di akhirat nanti.

Trimah mawi pasrah Artinya, menerima dengan tawakal, selalu bersyukur apapun yang kita peroleh tidak boleh menyerah  terus berjuang apapun hasilnya kita selalu bersyukur atas apa saja yang kita terima, Trima mawi pasrah juga bisa dimaknai menerima apa saja dengan pasrah dan tawakkal. Untuk menghilangkan rasa takut dan was-was, seseorang dianjurkan untuk mengosongkan hati dan jangan memiliki pamrih berlebihan, keinginan yang muluk muluk tidak sesuai dengan perjuangannya. Kita harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang baik bukan kecurangan apabila suatu perjuangan kita mendapat hasil kita wajib bersyukur, dalam perjuangan kita barengi dengan doa.
Jalan meraih sukses dengan pasti adalah dengan bertakwa dan bertawakkal pada Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat yang bisa menjadi renungan bagi kita bersama adalah firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا  وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Hakekat Tawakkal
Tawakkal berasal dari kata “wukul”, artinya menyerahkan/ mempercayakan. Seperti dalam kalimat disebutkan
“وَكَّلْت أَمْرِي إِلَى فُلَان”,
aku menyerahkan urusanku pada fulan. Sedangkan yang dimaksud dengan tawakkal adalah berkaitan dengan keyakinan.

Berdasarkan keterangan dari Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah, hakekat tawakkal adalah benarnya penyandaran hati pada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa ‘tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata’.

Keutamaan Tawakkal
Pertama: Tawakkal sebab diperolehnya rizki
Ibnu Rajab mengatakan, ”Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki”. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Kedua: Diberi kecukupan oleh Allah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca surat Ath Tholaq ayat 3 kepada Abu Dzar Al Ghifariy. Lalu beliau berkata padanya,

لَوْ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَخَذُوْا بِهَا لَكَفَتْهُمْ

“Seandainya semua manusia mengambil nasehat ini, itu sudah akan mencukupi mereka.”Yaitu seandainya manusia betul-betul bertakwa dan bertawakkal, maka sungguh Allah akan mencukupi urusan dunia dan agama mereka

Sepi Pamprih Tebih Ajrih
Tidak berharap imbalan jauh takut
Ini bermakna Apapun yang kita berikan jangan pernah kita berharap orang yang menerima membalasnya cukup ALLAH yang memberi balasan

Dalam riwayat lain disebutkan,

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”

Hadits ini dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”, hadits no. 559 (60/16).

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”. -Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah

Alhamdulillah, beberapa faedah sangat berharga telah kita gali dari hadits di atas. Semoga hal ini semakin mendorong kita untuk mengeluarkan zakat yang nilainya wajib dan sedekah-sedekah lainnya. Perhatikanlah syarat nishob dan haul setiap harta kita yang berhak untuk dizakati. Semoga Allah selalu memberkahi harta tersebut.

Namun ingatlah, tetapkanlah niatkan sedekah dan zakat ikhlas karena Allah

Tebih Ajrih artinya jauhi rasa takut atau jauhi rasa kawatir
Kita sebagai manusia tidak boleh takut karena kita mempunyai ALLAH yang senantiasa memberi kita dan mencukup kita sebagai mahluk ciptaaNYA

Yaitu ketakutan tanpa sebab atau penyebab takutnya itu sepele. Rasa takut seperti ini tercela. Bila ada orang yang merasakan ketakutan jenis ini berarti dia termasuk penakut. Sifat penakut membuat orang menjadi rendah. Iman yang sempurna, sifat tawakal, dan sifat berani mampu menghilangkan jenis takut ini.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan kepada Allah agar jangan sampai menjadi penakut,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِن َالْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ وَ الْجُبْنِ وِ الْبُخْلِ وَ الْهَرَمِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

(Allaahummaainnii a’udzuu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal bukhli walharami, wa a’udzuu bika min ‘adzaabil qabri wa a’uudzu bika min’adzaabin naari wa ‘adzuu bika min fitnatil mahyaa wal mamaat)

“YaAllah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat malas dansifat penakut, serta dari sifat kikir dan kepikunan. Aku berlindungkepadamu dari siksa di alam kubur. Aku berlindung kepadamu dari siksaneraka. Aku berlindung kepadamu dari ujian semasa hidup (di dunia)dan ujian semasa di alam kematian.” (HR. Muslim, )

Dua konsep yang berbeda antara duniawi dan ahkrowi..
Semoga hidup kita bahagia dunia akhirat, hidup damai saling tolong menolong..

Berlangganan via Email