Info Corona Update

COVID-19 ID

TOTAL POSITIF
ORANG
Positif
TOTAL SEMBUH
ORANG
Sembuh
TOTAL WAFAT
ORANG
Meninggal

Kisah Ayah Rasulullah syayiddina Muhammad Abdullah bin Abdul Muthalib



Kita sebagai umat muslim haruslah mengetahui sejarah dari Ayahanda Rosullah Syaiddina Muhammad SAW sebagai panutan dan pemimpin Muslim yang luar biasa. Semoga dengan kita Mengetahui sejarah dari beliau di beri kemudahan menjalankan Ibadah.

Abdullah bin Abdul Muthalib (545-570) adalah ayah dari Nabi Muhammad SAW. Ia adalah putra dari Shaiba bin Hasyim (`Abdul Muthalib), dan menikah dengan Aminah binti Wahab. Abdullah bin Abdul Muntholib ayah Baginda Rosullah Syaiddina Muhammad SAW Wafat dalam perjalanan kafilah antara Madinah dan Mekah karena sakit, pada usia dua puluh lima. tergolong meninggalnya di usia muda



SILSILAH Garis Keturunan Ayahanda Rosullah


Abdullah bin 'Abdul Muthalib (Shaiba) bin Hashim (Amr) bin Abdul Manaf (Al-Mughira) bin Qushay (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka `b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fahr (Quraisy) bin Malik bin An-Nadr (Qais) bin Kinana bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma `ad bin Adnan.

Walaupun Wafat dalam usia muda, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah termasuk benang merah dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Karena dari benihnyalah Allah Menitipkan ROSULLAH Yang Mulia lahir seorang manusia paling mulia dalam sejarah umat manusia. Lahir di kota Mekkah, riwayat Abdullah bin Abdul Muthalib secara keseluruhan adalah juga sejarah Abdul Muthalib, ayahandanya. Karena kelahiran Abdullah mengiringi sebuah cerita dramatik yang seakan menjadi pertanda penting dalam menentukan episode kehidupan Nabi Muhammad SAW berikutnya.

Tak di ragukan lagi, Abdullah bin Abdul Muthalib adalah tokoh penting dalam agama Islam. Dari rahim istrinya, Aminah, Nabi Besar Muhammad SAW lahir. Dan di atas pundak Rasulullah Muhammad SAW, risalah Islam dibebankan untuk disampaikan ke penjuru dunia Hingga akhir nanti
“Abdullah, ayah Rasulullah SAW tidak memiliki anak lelaki atau perempuan selain Muhammad. Dan di Madinah Beliau wafat bersama paman-pamannya dalam usia muda” tutur Muhammad Fawzi Hamzah dalam muqaddimah buku mininya “Abdullah Abun Nabi”.

Maka melalui tulisan padat dan singkat ini, kami coba membentangkan jalan menyingkap tabir sejarah Abdullah bin Abdul Muthalib, ayahanda Nabi SAW yang selama ini jarang di ceritakan ke kalayak umum dan awam seperti saya ini
Dalam memperkirakan tahun kelahiran seorang tokoh yang tidak hadir pada zamannya, sejarawan mengaitkannya pada kejadian besar yang pernah terjadi pada masa tokoh itu hidup, sebelum dia lahir atau pun setelah kematiannya. Seperti saat menentukan kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang bersanding dekat dengan peristiwa diserangnya Ka’bah oleh tentara bergajah pimpinan Abrahah. Kemudian sejarah mengenalnya sebagai ‘amul fiil (tahun gajah) 570 M.

Dalam Cerita Abdullah bin Abdul Muthalib tidak ada kejadian berdekatan yang bisa disandarkan untuk menentukan tahun kelahirannya. Hingga para sejarawan dalam menentukan tahun kelahirannya, perlu menarik jauh masanya sampai tahun gajah, di mana pada tahun itu pula anak semata wayangnya, Syaiddina Muhammad, lahir. Dari beberapa sumber mengatakan kelahiran Abdullah Ayahanda Syaiddina Muhammad, hingga terciptalah sejarah nasab (pohon nasab) yang memuat silsilah keluarga Nabi berikut tahun kelahirannya.

Qusay lahir tahun 400 M, Abdul Manaf 430 M, Hasyim 464 M, Abdul Muthalib 497 M, Abdullah 545 M, Muhammad SAW 570 M [bertepatan dengan tahun gajah,]. Berdasarkan perhitungan tersebut maka dari beberapa sumber dan perhitungan menetapkan angka 25 sebagai usia wafatnya Abdullah bin Abdul Muthalib --terhitung sebelum tahun gajah. Tidak banyak sejarawan yang mencatat masa kecilnya, kecuali hanya sebuah deskripsi bahwa Abdullah, seorang yang paling bagus paras wajah beliau dan akhlaqnya di antara suku Quraisy dari wajahnya terpancar cahaya Nabi seorang lelaki yang sedap di pandang di antara suku Quraisy... [Abdullah Abun Nabi, hal. 109].

Memang tidak ada seorang pun yang mampu melukis sosok Abdullah bin Abdul Muthalib secara detail. Namun mengikuti perkataan Nabi SAW bahwa saat seseorang semakin bertambah umurnya, dia akan semakin menyerupai bapaknya. Maka cukuplah meraba sosok Abdullah bin Abdul Muthalib dari sifat-sifat yang ada pada diri anaknya, Muhammad SAW tetapi ini hanya perkiraan para sejarahwan karena di masa itu belum ada teknologi perkam seperti kamera seperti saat ini

 “Maka Rasulullah adalah keturunan Adam yang paling mulia, dan terbaik nasabnya dikarenakan bapak-ibunya”, Demikian Ibnu Hisyam dalam sirahnya.
Para sejarawan berselisih dalam menetapkan umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat menikahi Aminah binti Wahab. Sebagian menyebut angka 18 tahun, dan lainnya mengatakan lebih dari itu. Al-Isti’ab menyebut umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat menikahi Aminah mencapai 30 tahun, angka yang aneh jika dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat arab yang mengawinkan anaknya dalam usia muda pada saat itu.

Menurut sumber lainnya Satu hal yang pasti dalam masalah ini, Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi Aminah setelah lolos dari undian yang menentukan dia sebagai sembelihan bapaknya; satu-satunya peristiwa dramatik dari Abdullah bin Abdul Muthalib yang dikenang sejarah. Ahmad Taaji dalam sirah-nya [Sirah An-Nabi Al-Arabi 1: 42] menyebut umur Abdullah bin Abdul Muthalib saat itu 18 tahun.

ANA IBNU ADZ-DZABIHAINI

Dalam Mustadrak-nya, Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Mu’awiyyah yang mengisahkan Rasul pernah dipanggil dengan “Ibnu Adz-Dzabihaini” oleh sahabat Ibnu ‘Arabi. Beliau hanya tersenyum manis tanpa sedikitpun menyangkalnya.

Sahabat lain pun bertanya: “Siapa Dzabihaini itu ya Rasulullah?” “Mereka berdua Ismail dan Abdullah”, Jawab Rasullah

Bahkan, dalam kaitannya dengan julukan Abdullah sebagai Adz-Dzabih-- Ibnu Burhanuddin, mengangkat sebuah hadits yang dengan bahasa lain Rasulullah menyebut dirinya, “Ana ibnu Dzabihaini”. Namun dia tidak mengingkari ke-gharib-an hadits ini dikarenakan dalam sanadnya ada satu periwayat yang majhul [tidak diketahui]. Terlepas dari perdebatan ulama tentang status hadits pengakuan Nabi sebagai ibnu Dzabihaini, banyak hadits lain yang substansinya sejalan dengan klaim Nabi tersebut. Karena an sich-nya julukan Adz-Dzabih untuk Abdullah bin Abdul Muthalib berkaitan erat dengan kisah mimpi Abdul Muthalib yang diperintah Allah menggali sumur Zamzam. Banyak sekali hadits yang mengabarkan peristiwa ini dengan berbagai macam redaksi.

Maka sejarah Abdullah bin Abdul Muthalib bergulir dari sini. Saat itu pembesar Quraisy menentang keras hasrat Abdul Muthalib menggali sumur Zamzam, di karenakan letaknya yang berada di antara dua berhala, Ash dan Nailah. Selain itu, mereka juga mengetahui Abdul Muthalib tidak mempunyai apa dan siapa, kecuali seorang anak laki-laki yaitu Al-Harits. Masih ditambah lagi dengan aura homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, -red) yang sedang menjangkiti kabilah-kabilah besar penguasa tanah arab. Maka lengkaplah alasan Abdul Muthalib untuk tidak berdaya.

Abdul Muthalib pun beranjak pergi dalam galau yang mendalam. Lalu berdiri di hadapan Ka’bah dan bernadzar kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Sa’ad yang sanadnya marfu’ sampai Abdullah bin Abbas (ra), menuturkan:

Ketika Abdul Muthalib bin Hasyim menyadari bahwa hanya sedikit kemampuan yang dia miliki untuk menggali Zamzam, dia pun bernadzar, “Jika aku dikaruniai sepuluh anak laki-laki, dan setelah mereka dewasa mampu melindungiku saat aku menggali Zamzam, maka aku akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah sebagai bentuk korban”. Seiring perjalanan zaman, anak-anak Abdul Muthalib pun menjadi besar dan telah genap sepuluh orang. Abdul Muthalib berniat merealisasikan rencananya menggali Zamzam, sambil bersiap-siap mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk pelaksanaan dari nadzar yang dia ucapkan.

Maka dilakukanlah undian atas sepuluh anaknya, lalu keluarlah nama anaknya yang paling kecil, Abdullah. Ketika nama Abdullah keluar dalam undian, maka orang yang ada di sekitarnya berusaha menolak, mereka mengatakan tidak akan membiarkan Abdullah disembelih. Abdullah saat itu terkenal sebagai seorang yang bersih, tidak pernah menyakiti siapa pun. Senyuman khas Abdullah terkenal sebagai senyuman yang paling lembut di kawasan jazirah Arab. Muatan rohaninya demikian jernih, dan hatinya yang mulia seolah taman bunga di tengah gurun sahara yang tandus. Sungguh Abdullah telah menarik simpati masyarakat di sekitarnya pada zaman itu

Oleh karena itu, semua masyarakat datang kepadanya dan menentang usaha penyembelihannya. Para pembesar Quraisy berkata, “Lebih baik kami menyembelih anak-anak kami sebagai tebusan baginya, daripada ia yang harus disembelih. Tidak ada yang lebih baik dari dia. Pertimbangkanlah kembali masalah ini jangan gegabah, dan biarkan kami bertanya kepada Kahin (Peramal-dukun)” di daerah tersebut pada jaman itu.

Abdul Muthalib tidak mampu menghadapi tekanan ini, lalu mempertimbangkan kembali apa yang telah ditetapkannya. Kemudian pembesar Quraisy mendatangi seorang Kahin. “Berapa taruhan yang kalian miliki?” Tanya Kahin. “Sepuluh ekor unta.” Jawab mereka. “Datangkanlah sepuluh unta, lalu lakukanlah kembali undian atasnya dan atas nama Abdullah, jika dalam pengundian yang keluar nama Abdullah lagi maka tambahlah sepuluh ekor unta, begitu seterusnya, hingga tidak keluar lagi nama Abdullah”, Perintah Kahin kepada mereka. Kemudian dilakukanlah undian atas nama Abdullah dan sepuluh ekor unta yang besar.

Undian itu pun masih selalu mengeluarkan nama Abdullah, dan Abdul Muthalib menambah sepuluh ekor unta lagi, hingga saat jumlah unta mencapai seratus ekor maka keluarlah nama tersebut. Masyarakat begitu gembira hingga berlinang air mata penuh dengan dramatisi , demi menyaksikan Abdullah berhasil diselamatkan. Kemudian disembelihlah seratus ekor unta di sisi Ka’bah sebagai ganti Abdullah. Kedua hadits di atas [hadits pengakuan nabi sebagai ibnu Adz-Dzabihaini dan hadits kisah penyembelihan Abdullah] mengisyaratkan sebuah kongklusi, walau keduanya berbeda dalam status, namun keduanya bersepakat bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib adalah Adz-Dzabih sebagaimana Ismail. Maka tanpa melihat status gharibnya hadits “Ana Ibnu Ad-Dzabihaini”, Muhammad tetaplah ibnu Dzabihaini.



MISTERI KEMATIAN AYAHANDA RASULULLAH SAW

Rancangan jahat orang Yahudi membunuh Rasulullah SAW telah direncanakan sejak sebelum Rasulullah lahir. Usaha itu dilakukan bahkan ketika beliau masih berada dalam sulbi ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib dan saat berada dalam perut ibunya, Aminah. Setelah beliau lahir, usaha membunuh Beliau semakin menjadi-jadi.

Para dukun dan Rabi Yahudi berusaha keras membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW. Salah satu tokoh mereka mengatakan:

 “Siapkan makanan yang telah diberi racun yang sangat mematikan dan kemudian makanan itu berikan kepada Abdul Muthalib.”

Orang-orang Yahudi melakukan hal itu lewat para perempuan yang menutup wajahnya dengan kain. Setelah makanan tersebut selesai dibuat, mereka membawanya kepada Abdul Muthalib.

Ketika sampai di rumah Abdul Muthalib, isterinya keluar dan menyambut mereka. Mereka berkata:


"Kami masih keturunan Abdi Manaf dan itu berarti masih famili jauh kalian.”

Mereka lantas memberikan makanan tersebut sebagai hadiah. Setelah mereka pergi, Abdul Muthalib berkata kepada keluarganya:

“Kemarilah keluargaku, kita menyantap bersama apa yang dibawakan oleh famili jauh kita.” Mereka berkumpul Mendekat Penuh dengn suasana damai dan keakraban
Namun, saat mereka hendak memakan hidangan yang dibawa itu, terdengar suara dari makanan tersebut:

“Kalian jangan memakan aku, karena aku telah diracuni oleh mereka.”

Keluarga Abdul Muthalib tidak jadi makan dan kemudian berusaha mencari tahu siapa para perempuan yang menghadiahi mereka hidangan tersebut. Namun selidik punya selidik dari mengumpulkan informasi mereka tidak berhasil mengetahui identitas mereka. Ini adalah salah satu tanda-tanda kenabian Rasulullah SAW sebelum lahir.

Tidak berhasil, kembali sekelompok Rahib Yahudi dengan memakai pakaian pedagang Syam memasuki kota Mekkah, para Rahib yahudi menyamar. Mereka sengaja datang ke sana Berencana dan akan membunuh Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah SAW. Sejak awal mereka telah mempersiapkan dengan strategi pedang yang telah diolesi racun. Mereka dengan sabar menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat jauh-jauh hari dan rencana matang.

Pada suatu saat, Abdullah bin Abdul Muthalib keluar dari kota Mekkah untuk berburu. Orang-orang Yahudi melihat ini sebagai sebuah kesempatan Emas yang paling di tunggu untuk membunuh Abdullah. Di suatu tempat mereka mengepung dan hendak membunuhnya beramai ramai satu kelompok. Namun lagi-lagi usaha mereka gagal total, sebab tidak di sangka ada sekelompok Bani Hasyim yang kembali dari perjalanan melalui jalur tempat tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Abdullah bin Abdul Muthalib berhasil selamat dari niat busuk orang-orang Yahudi yang licik dan penuh akal busuk.
Sempat terjadi bentrok  antara orang-orang Yahudi dan Bani Hasyim yang berujung pada sejumlah pendeta Yahudi mati karena terluka parah akibat dari bentrok tersebut dan sebagian lainnya yang hidup ditawan dan dibawa kembali ke Madinah dengan Sekelompok Bani Hasyim.

Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Rasulullah SAW, meninggal secara misteri. Sebagian ada yang meriwayatkan beliau meninggal pada umur 17 tahun sementara lainnya menyebutkan 25 tahun. dari sebagian sumber yang kami dapatkan dan itu pendapat sejarawan yang menuliskan informasi.

Kazruni dalam bukunya Al-Muntaqi menulis:
memperkirakan kelahiran Ayahanda Rosullah
 “Abdullah bin Abdul Muthalib lahir tepat 24 tahun sejak masa pemerintahan Anushirvan, Raja Kisra. Ketika berumur 17 tahun, beliau menikah dengan Aminah. Ketika Aminah hamil Rasulullah SAW, Abdullah meninggal dunia di kota Madinah. Semua orang pada zaman itu menuduh penyebab kematian Abdullah adalah orang-orang Yahudi. Mereka meracuni Abdullah. Karena ketika di Mekkah mereka berkali-kali berusaha membunuh Abdullah namun tidak sempat karena ada kendala. Bagaimana bila Abdullah ke Madinah yang di sana hidup banyak orang Yahudi daerah Madinah pada masa itu di huni mayoritas Orang Yahudi”

Sudah pasti mereka mempunyai tujuan asli adalah Rasulullah SAW. Namun ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang menjadi korban kebiadapan Kaum Yahudi yang tak ingin kelahiran BAGINDA ROSULLAH 

WAFATNYA BELIAU AYAHANDA ROSULLAH

Abdullah sakit dan wafat serta dikuburkan di kota Madinah ditempat keluarga neneknya Bani Adi bin Najaar, ketika melakukan perjalanan pulang berdagang dikota Madinah.

Dia dimakamkan di rumah An-Nabigha-Ju'di. Ia berumur dua puluh lima tahun ketika ia meninggal. Kebanyakan sejarawan menyatakan bahwa Wafatnya Beliau adalah dua bulan sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Beberapa orang lain mengatakan bahwa kematiannya adalah dua bulan setelah kelahiran ROSULLAH SYAIDDINA MUHAMMAD SAW pada Tahun Gajah bersanding dekat dengan peristiwa diserangnya Ka’bah oleh tentara bergajah yang di pimpin Abrahah. 

Abdullah bin Abdul Muthalib meninggalkan kekayaan sangat sedikit, yakni lima unta, sejumlah kecil kambing, seorang hamba sahaya, yaitu Ummu Aiman yang kelak kemudian akan menjadi pengasuh Nabi.

Demikian sekilas singkat sejarah Ayahanda Rosullah. "Sejarah real dan benar adalah mereka para pelaku sejarah yang mengalaminya" kami hanya orang awam dan fakir ilmu  meraba dan mencoba bercerita dari mengumpulkan dari beberapa sumber dan kami olah agar mudah di fahami secuil sejarah Agar kita sebagai orang awam mengerti sedikit tentang sejarah "Ayahanda Rosullah Baginda Syaiddina Muhammad."

harapan Kami : semoga dengan mengetahui sedikit sejarah Ayahanda Bagida ROSULLAH SYAIDDINA MUHAMMAD, kita lebih Mencintai SYAIDDINA MUHAMMAD lebih dalam lagi, dan memperbanyak sholawat serta Salam kepada Beliau. Kami sebagai penulis mohon maaf apabila ada kalimat atau kata yang salah.

Berlangganan via Email